3.7.13

# Cirebon # Jawa Barat

Nasi Jamblang Stasiun Cirebon


Ini masih rentetan perjalanan saya di pantura Jawa tahun lalu, sambungan artikel sebelumnya. Sudah saya ceritakan bahwa rencana perjalanan yang sudah tersusun rapi akhirnya berantakan karena saya harus masuk UGD di Parakan. Karena itu, sampai Cirebon kami kemalaman dan kelaparan. Sebenarnya banyak rumah makan di kota-kota sebelumnya, tapi saya keukeuh ingin makan empal gentong. Sesuai yang rada absurd mengingat perut saya tidak bisa dimasuki apa-apa, harus memaksakan diri makan sehingga tidak bisa
menikmati cita rasa makanan apapun.
Sampai di Cirebon waktu itu sudah sekitar jam 21.00. Jalanan sudah sepi. Kami juga harus berputar-putar di  
kota yang tidak kami kenal untuk mencari empal gentong. Beberapa saat kemudian kami sadar bahwa telah melalui jalan yang sama lagi. Sempat ketemu beberapa warung empal gentong tapi sudah tutup. Jadi kesimpulannya jam segitu memang sudah tidak ada warung empal gentong yang buka. Bahkan rumah makan lainnya banyak juga yang tutup. Ada teman yang menunjukkan rumah makan dengan menu beragam tapi terkenal. Daaan.... sudah tutup juga!
Karena keputusan ada di tangan saya, saya memutuskan untuk makan seadanya. Heheheee.... Secara logika, jam segitu yang ada makanan biasanya sekitar stasiun atau terminal. Setelah muter-muter, ketemu juga dengan stasiun Cirebon. Disitu berderet warung tenda. Saya usul agar menyisir dulu sampai ujung untuk melihat apa yang mereka jual, baru kemudian balik untuk memilih.
Saat itu kami menemukan warung nasi jamblang yang letaknya di tengah. Menunya lain sendiri dibandingkan dengan warung lain yang umumnya bisa kita temui di banyak tempat, seperti penyetan, bakso, nasi goreng, dan sebagainya.
Nasi jamblang itu mirip angkringan di Jogja, tapi displaynya di meja-meja berkaki rendah, dan kita duduk didepan bakulnya, kayak di meja makan dirumah aja. Karena makannya berkumpul seperti itu, kita jadi bisa berinteraksi dengan penjual dan warga setempat. Kita bisa makan sambal ngobrol santai dengan orang yang tidak kita kenal. Sayangnya, karena tidak fit, saya agak buru-buru ingin istirahat di mobil.
Yang khas dari nasi jamblang adalah alasnya dari daun jati. Lauknya banyak, macam-macam tinggal pilih. Favorit saya sate usus dan paru goreng yang basah. Kalau saya enggak sakit, pasti sudah nambah bolak-balik tuh. Harganya saya tidak ingat, yang jelas murah!
Untuk foto, saya baru nemu satu di akun twitter saya. Lainnya? Didalam laptop yang diambil perampok dirumah saya. :((

No comments:

Post a Comment

Thank you for your comment. It will appear soon.