5.4.13

# Obyek

The Spectacular Ramayana Ballet

Pemeran Rama & Shinta, satu2nya foto yg tersisa &  sdh dicropping
Jogja memiliki banyak obyek wisata, dan yang paling banyak dikunjungi adalah tempat-tempat yang berhubungan dengan kuliner dan belanja kerajinan. Mudik tahun lalu, saya mengajak anak-anak melihat Sendratari Ramayana. Saya pikir, mereka  harus sekali-kali diajak menikmati wisata budaya. Apalagi sebagai keturunan Jogja tulen (dari pihak ayahnya), anak-anak yang besar di Sumatra ini harus dikenalkan dengan budaya moyangnya.
Saya sudah pernah menonton Sendratari Ramayana sewaktu kuliah dulu. Pagelarannya kolosal dan sangat spektakular. Sayangnya waktu itu yang menonton bersama saya kebanyakan turis asing. Entah mengapa wisatawan lokal
kurang tertarik. Saya berharap, kali ini lebih banyak orang Indonesia.
Sendratari Ramayana dipenggal dalam beberapa babak dan ditampilkan pada jam tertentu dimalam hari. Untuk panggung Open Theater, latar belakang berupa candi Prambanan yang diterangi lampu sorot, terlihat  sangat dramatis.  Sedangkan panggung tertutup, Trimurti Theater, belum pernah saya coba. Saya juga selalu memilih yang ada adegan Hanuman Obong, karena seru, ada adegan perang dan pembakaran. Tiket masuk memang tidak murah, mulai dari Rp 100.000,-, tapi sangat sepandan dan masih lebih murah dibandingkan dengan konser-konser musik artis.
Tiket masuk
Memasuki kompleks Open Theater, suasana tertib, rapi dan cozy sudah dimulai dari pintu gerbang. Semua petugas berseragam batik dan sangat menghormati para tamu. Suasana santai dan nyaman juga ditunjukkan di loket pembelian tiket. Di sebelah kanan loket, ada deretan cafe dan kios souvenir yang tenang dan romantis. Yang baru dan langka didunia pertunjukkan adalah kesempatan foto bersama pemeran utama, yaitu Rama, Shinta dan Hanuman, di depan back drop kecil khusus. Sayang, foto-foto saya hilang bersama laptop yang diambil pencuri, dan hanya tersisa satu foto yang telah saya cropping pula untuk artikel lain.
Sudah cukupkah service penyelenggara sebelum sendratari dimulai? Belum! Setelah melangkah masuk arena, pengunjung disambut oleh satu group gamelan yang mengalunkan tembang-tembang Jawa yang menentramkan. Group gamelan itu duduk di semacam gazebo. Pengunjung boleh ikut selonjor disana, asal muat, karena tempatnya tidak terlalu luas. Didepannya ada rak-rak berisi brosur jalannya cerita. Ini penting karena tidak ada dialog dalam sendratari, hanya tarian yang diiringi gending dan tembang. Brosur disediakan dalam beberapa bahasa. Saya mengambil yang berbahasa Indonesia dan Inggris untuk anak-anak saya. Saya sendiri tidak perlu karena sudah paham ceritanya. Lebih baik brosur dibaca sebelum sendratari dimulai karena pada saat pementasan, lampu pengunjung dipadamkan. Selama pagelaran juga dibantu dengan narasi dalam bahasa Indonesia dan Inggris di setiap pergantian babak.
Brosur dalam bahasa Inggris
Tempat duduk di Open Theater berbentuk U. Pengunjung VIP mendapat tempat duduk didepan panggung persis, sedangkan kelas lain di bagian atas, sudut dan kanan kiri panggung. Tempat duduk VIP dari sofa empuk, sementara kelas lain cukup nyaman dari batu candi. Meski demikian, sutradara sendratari sangat pandai memanfaatkan luas panggung, karena penari bisa muncul dari mana saja. Di dua sudut di deretan pengunjung juga ada panggung kecil, tempat kemunculan beberapa penari. Adegan paling spektakuler ketika Rama berdiri disana disorot lampu besar lalu memanah musuhnya yang ada di panggung utama. Jleb! Tidak meleset samasekali (enggak nembus karena tidak runcing), seperti betulan, padahal jaraknya sangat jauh.
Pementasan Sendratari Ramayana di awali dengan pembukaan dari pembawa acara perempuan, yang suaranya sangat bagus, ngebass dan empuk. Pembawa acara membacakan tata tertib selama pementasan berlangsung agar semua pengunjung bisa menikmati jalannya sendratari tanpa gangguan. Tata tertib dibacakan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Penyelenggara memperlakukan Sendratari Ramayana seperti pertunjukan opera di Eropa. Sayangnya, pengunjung Indonesia masih banyak yang seenaknya, antara lain datang terlambat sehingga tidak mendengar tata tertibnya, ribut dengan rombongan sendiri, berisik makan camilan, nyinyirin adegan-adegannya, foto-foto tanpa henti, dan sebagainya. Sedih banget melihat kenorakan itu karena mereka bukanlah orang udik, melainkan pendatang dari kota metropolitan yang modern dan terdidik.
Brosur dalam bahasa Indonesia
Sendratari berlangsung mengalir, tarian demi tarian. Kita tak henti dibuat kagum oleh koreografi dan stamina penari dalam menguasai panggung seluas itu. Penari terdiri dari berbagai usia. Penari anak-anak mendapat tugas menjadi kera-kera kecil pasukan Hanuman. Gerakan mereka lucu dan tengil. Anak-anak tertawa melihat tingkah anak-anak kera itu. Sewaktu saya masih tinggal di Kotagede dulu, depan rumah kami yang merupakan aula balaidesa sering digunakan anak-anak rombongan Ramayana ini berlatih tari. Sayang, anak-anak saya tidak tertarik ikut latihan, meskipun saya dulu sangat suka menari.
Penari-penari pasukan Rahwana adalah yang paling memerlukan ketrampilan fisik tingkat tinggi karena mereka menari sambil meloncat, berlari dan berguling-guling. Meskipun Shinta dan pengiringnya selalu menari dengan lemah lembut dan tampak ringkih, tapi mengagumkan bagaimana mereka bisa berjalan sedemikian cepat dengan kaki setengah berjinjit tiap masuk dan keluar panggung. Bagian paling menghibur adalah ketika Rama mengejar kijang emas. Penari kijangnya sangat lincah, menari sambil meloncat-loncat dengan lonceng-lonceng kecil dikakinya.
Kira-kira setengah dari pementasan, ada waktu istirahat. Nah, di waktu inilah kita dipersilakan ke toilet atau makan minum. Untuk penonton VIP dilayani oleh waiter, sedangkan pengunjung kelas lain boleh membuka bekal masing-masing. Heheheee.....
Mendekati akhir pementarasan, adrenalin ditingkatkan dengan semakin seringnya adegan perkelahian, yang diakhiri dengan pembakaran kerajaan Alengka oleh Hanuman. Penyelenggara menggunakan atap-atap sirap untuk menggambarkan Alengka sehingga kebakaran yang ditimbulkan cukup seru, api berkobar-kobar menjilat langit. Penonton bertepuk tangan dengan semangat. Anak-anak kecil terkagum-kagum melihat adegan yang dahsyat itu. Adegan Shinta obong lagi-lagi membuat penonton terpukau.
Pertunjukkan ditutup dengan meninggalkan perasaan bangga terhadap seni budaya bangsa Indonesia. Sendratari bukan hanya milik orang-orang kuno atau pedesaan, tapi bisa tampil secara eksklusif seperti opera di Eropa. Harapannya, kita sebagai pemilik seni budaya itu harus bisa beradaptasi dengan aturan yang tertib, karena itu juga merupakan bentuk penghargaan terhadap para seniman yang sedang tampil.
Sebelum pulang, penyelenggara yang sangat paham unsur utama pariwisata, yaitu menjunjung hospitality, juga memberi kesempatan pada pengunjung untuk foto bersama seluruh penari di panggung utama. Jadi kalau ke Jogja, jangan lewatkan Sendratari Ramayana ya.

3 comments:

  1. ternyata wisata dan budaya indonesia memang keren2 ya, jadi pingin nonton acaranya

    ReplyDelete
  2. yeah, makasih, masuk list dalam kegiatan saya nanti di jogja. makasih :)

    ReplyDelete
  3. pemandangan prambanan di waktu malam eksotik bgt, ya

    terima kasih sdh berpartisipasi :)

    ReplyDelete

Thank you for your comment. It will appear soon.