15.7.16

# DIY # Kuliner

Bersantai di Rumah Makan Moro Lejar Cangkringan Jogja

Di rumah makan bukannya mau makan, kok malah bersantai?


Memang betul, disini banyak yang tiduran, terutama bapak-bapak yang sudah lelah setelah mengantar keluarga jalan-jalan ke Kaliurang. Moro Lejar adalah sebuah rumah makan dengan konsep gubug atau saung. Dibawahnya ada kolam ikan tapi tidak ada kegiatan seperti pemancingan. Karena itu enak buat tiduran, seperti di bale-bale dengan angin semilir dari pertanian. Kebetulan pula moro = datang, lejar = santai atau terang.

Baca juga: Tengkleng Gajah Jogja No 1 Di Dunia

Paling recommended: Ikan Nila Asam Manis
Saya datang kesana beberapa hari setelah Lebaran tapi bukan di jam makan, jadi meskipun penuh dengan rombongan keluarga dan reuni masih ada tempat lah. Tadinya saya keberatan api berhubung seluruh family member setuju, ya okelah berhenti disitu. Saya keberatan karena sudah lapar banget. Bayangan saya tentang rumah makan konsep begini adalah lama. Maklumlah semua pakai proses from the scracth. Penginnya rumah makan padang atau ramesan yang tinggal nyiduk.


Sebetulnya saya sudah beberapa kali kesini. 

Moro Lejar dulu pernah ngehits karena termasuk salah satu dari beberapa restoran dengan konsep terbuka dengan alam. 

Dahulu belum terlalu banyak rumah makan seperti ini. Salut juga masih bertahan lama sampai sekarang ditengah persaingan yang makin ketat. Terakhir kesana tahun lalu tapi saya lupa pelayanannya bagaimana. 


Dalam kondisi ramai begitu, yang terpenting nyari mbak atau mas yang bawa menu. Bisa saja sih nunggu ada yang lewat, tapi takut lama kelaparan. Apalagi saya cari bel atau kentongan pemanggil tidak ketemu. Mas dan mbak disini enerjik semua dan sopan-sopan. Dibandingkan dengan konsep sejenis, termasuk cekatan lah. 

Pesanan saya datang lebih cepat dari prasangka saya. 

Masnya minta maaf karena membuat kami menunggu lama, padahal nggak lama lo. 


Soal rasa, semua cocok di lidah saya. Udangnya juga lumayan, nggak asal ditepung. Yang paling saya rekomendasikan nila asam manis dengan saus dipisah. Seporsi nila terdiri dari beberapa ikan nila kecil. Mengapa sausnya harus dipisah? Supaya kepalanya bisa kita habiskan dulu. Kepalanya itu enak dan renyah seperti keripik. Kami sampai rebutan. Setelah semua kepala habis, barulah badan ikan disiram saus.

Menu unik lainnya adalah bir pletok yang rasanya seperti wedang ronde tapi isinya selasih. Kami hanya pesan satu karena penasaran saja. Selebihnya pesan es teh dan es jeruk kareana udara di luar tadi panas, kami kegerahan. Bir pletok tidak pakai es.


Harga pas banget dengan porsi dan rasa menu yang terhidang. Nggak mahal buat rame-rame. 
Nah, kalau habis main ke Kaliurang dan lapar, bisa kesini. Rutenya ada di peta ya, nggak susah kok, sejajar saja dengan jalan utama dari Kaliurang.

Gurame bakar madu besar Rp 78.000
Nila asam manis Rp 45.000
Oseng-oseng Rp 10.000
Nasi putih 1 ceting Rp 18.000 (cukup untuk ber 6)
Sambal bawang Rp 3.000
Sambal terong Rp 5.000
Air mineral cup Rp 1.000
Beer pletok Rp. 7.000
Es jeruk nipis Rp 8.000
Udang goreng tepung dan es teh tidak tampak di bon dan saya juga sudah lupa harganya.

Rumah Makan dan Gedung Pertemuan Moro Lejar
Balangan, Wukirsari, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta
Telpon 0274 895035, 895036
Email: morolejar@yahoo.com

1 comment:

  1. Hemmm mak Lusiii, bikin ngiler, terutama itu ikan bakarnya :))

    ReplyDelete

Thank you for your comment. It will appear soon.