2.8.14

# DIY # Kuliner

Bakmi Pak Rebo (Ting Ijo) Jogja, Sejak Indonesia Belum Merdeka

Ting ijo (lampu ting hijau) didepan warung.
Bakmi Pak Rebo adalah satu diantara bakmi jowo yang legendaris di Jogja. Bakmi Pak Rebo berdiri sejak tahun 1940, padahal kita merdeka tahun 1945. Wuih sudah melewati masa-masa merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI. Orang Jogja lama mengenal Bakmi Pak Rebo sebagai Bakmi Ting Ijo. Ting ijo adalah lampu gantung yang dijaman dahulu kadang diisi minyak tanah atau spiritus. Kalau sekarang dalamnya sudah pakai neon / lampu TL tapi covernya tetap berwarna hijau supaya ciri khasnya tidak hilang.
Dapur didepan dan live music.
Warung Bakmi Pak Rebo memiliki interior sederhana dengan delapan meja. Gerobak bakmi diletakkan di pintu masuk sehingga pembeli bisa melihat pesanannya disiapkan. Seperti umumnya bakmi jowo, Bakmi Pak Rebo juga dimasak satu persatu meskipun ada pesanan yang sama. 
Bakmi goreng yang pucat tapi rasanya lezat seperti pasta.
Tak perlu terlalu khawatir menunggu proses memasak yang satu persatu itu karena selain wajannya ada dua, juga kita akan dihibur oleh penyanyi yang merangkap pemain gitar. Bapak-bapak ini sudah tampil disitu sejak lama, menyanyikan lagu-lagu lama dengan suara yang merdu, baik berbahasa Indonesia maupun Inggris. Waktu saya kesana, bapak itu baru selesai merokok dan langsung menyambar gitar mengalunkan The Autumn Leaves, lagu favorit saya sepanjang masa. :))
Bakmi godog yang juga pucat tapi lezat. Bisa dipesan pakai kecap, tergantung selera.
Bakmi Pak Rebo menawarkan berbagai menu olahan bakmi khas Jogja dalam tiga pilihan cara memasak: goreng, rebus dan nyemek. Nyemek itu tidak kering tapi kuahnya tidak sebanyak bakmi rebus. Jika bakmi umumnya memberi pilihan spesial atau istimewa, Bakmi Pak Rebo agak berbeda dengan menawarkan tambahan paha ayam, dada ayam, ceker dan jerohan. Tambahan tersebut disuwir-suwir dan dicampurkan. Semua tampilan bakmi disini pucat tapi bisa minta diberi kecap jika suka.
Tidak disemat lidi tapi paku heheheee.
Menurut saya sih lebih enak dimakan ditempat karena masih panas-panas. Tapi enggak mengecewakan juga kalau dibawa pulang. Paling-paling kaget aja karena disemat paku hahahaaa.... Paku ini juga sudah digunakan sejak dulu, entah apa pertimbangannya. Mungkin karena tidak mudah patah atau berpartisipasi dalam save tress. Heheheee.... Yang jelas, harga bahan bangunan yang terus melangit belum membuat pengelola warung beralih ke lidi.
 
Harga di Bakmi Pak Rebo tidak mahal. Di waktu Lebaran rata-rata dibawah Rp 20.000,-. Bagi yang belum pernah kesini, cari saja lampu ting ijo didepan warung. Jika dari arah Jogja, letaknya setelah Purawisata tapi sebelum perempatan ke arah Jl Parangtritis. Memang didepan warung ada spanduknya tapi karena penerangan tidak terlalu benderang, sering terlewat.

Bakmi Pak Rebo
Jl. Brigjend Katamso
Yogyakarta
Hp. 08175410904

10 comments:

  1. hiyyyaaa..pake paku,kalo beli bakmi selusin lumayan juga buat bikin kursi pakunya hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ya kok nggak kepikir ngumpulin hihihiii. Beli lagi aaaah

      Delete
  2. Boleh, nih, dikirim satu ke Surabaya, mbak. Hehe...
    Hem, telaten juga, ya, kokinya. Biasanya kalau di warung2 gitu, kalau pesanannya sama, langsung dimasak bebarengan. Jadinya gag bisa request2 gitu, to :3

    Salam kenal dari Surabaya, mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Jogja suka kayak gitu. Lotek juga. Mesti sabar nunggunya heheee

      Delete
  3. Mak Lusi sekarang pindah ke Jogja kah ?
    Thanks ya infonya ... Minggu depan Insya Allah aku tugas Jogja pengen berburu ke sini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Call ya mak, siapa tau bisa ketemuan :))

      Delete
  4. bentuk bakminya unik atau mungkin karena di potong2 ya jadi terlihat kayak kecil gitu mienya :D
    aku jadi pengen mampir kalo ke jogja nanti :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gatau tuh, kayaknya mereka bikin sendiri deh krn lebih lembut

      Delete

Thank you for your comment. It will appear soon.