31.5.14

# DIY # Obyek

Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

Demi membuang resi-resi yang sudah menumpuk, saya paksakan postingan ini. Maaf jika kurang sempurna karena lagi-lagi fotonya bersama laptop saya yang hilang dirampok. Insya Allah jika saya kesana lagi akan saya ganti dengan foto yang lebih ciamik.
Amanat HB IX kepada rakyatnya untuk tunduk pada pemerintah RI.

Ke Jogja wajib mengunjungi Kraton, tidak hanya untuk mengenang masa kejayaan monarki Jawa tapi juga perannya yang sangat penting pada masa kemerdekaan Indonesia. Kedudukan kraton yang dihormati oleh pemerintah Belanda, membuat kraton leluasa melindungi pejuang Republik Indonesia. Jika ada keraguan tentang keistimewaan Jogja, datanglah ke kraton untuk melihat sendiri prasasti yang berisi perintah dari Sultan Hamengku Buwono IX kepada rakyat Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk tunduk kepada pemerintah Indonesia. Tanpa perintah itu, penduduk Jogja sekarang akan memiliki kewarganegaraan sendiri.
Waktu yang tepat untuk datang ke kraton adalah selain liburan sekolah. Kraton paling banyak dijadikan tujuan wisata anak sekolah. Kraton di Jogja hanya satu, yaitu di alun-alun utara. Sedangkan Puro Pakualaman dulunya adalah Kadipaten, bagian dari Kraton Jogja, yang juga diperintahkan untuk melebur dalam propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Guide sedang menerangkan silsilah keluarga kraton.
Tiket masuk ke kraton sangat murah, tapi saya tidak ingat. Mungkin sekitar Rp 5.000 dan masih ditambah lagi jika membawa masuk kamera. Ajaklah guide untuk menerangkan apa saja yang ada didalam kraton. Tanpa guide, isinya hanya benda mati yang kita kagumi karena usia yang lama dan bahannya yang berkualitas tinggi.
Waktu berkunjung ke kraton saya mengajak guide, seorang kakek yang berdiri di pintu gerbang. Kakek ini sangat ramah dan banyak memiliki cerita dongeng dan behind the scene benda-benda yang ditampilkan. Misalnya, ketika melewati ruang jamuan makan yang sangat besar, beliau bercerita siapa saja yang pernah makan disana. Beliau juga bercerita banyak tentang Lady Diana yang pernah makan disana dan apa kesukaan Lady Di. Dari nada beliau tercermin pula sikap tidak terima atas kurangnya penghargaan terhadap pengorbanan Sultan yang telah melindungi para pejuang, lalu mengalah dan bergabung dengan Indonesia. Sebenarnya tidak membayar guide juga tidak apa-apa, tergantung kerelaan saja, saya memberi Rp 200.000,-.
Sultan adalah penghobi fotografi kelas berat :)
Dekat pintu keluar terdapat kios souvenir. Harganya memang agak tinggi, tapi saya beli juga beberapa karena di luar tidak ada. Setelah keluar, banyak pedagang makanan. Kita bisa istirahat dibawah pohonnya yang besar-besar.
Jika masih ada waktu, mampirlah ke Museum Kareta milik kraton, tak jauh dari sana, hanya beberapa puluh meter jalan kaki. Disini membayar tiket lagi, tapi murah, hanya Rp 3.000 untuk orang dan Rp 1.000 untuk kamera.
Note: Karaton dan Kareta bukan typo atau salah ketik, tapi demikianlah yang tertulis di karcis.

Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

No comments:

Post a Comment

Thank you for your comment. It will appear soon.