5.7.13

# DIY # Kuliner

Mangut Lele Asap Sorwit Keraton Yogyakarta


Sorwit artinya ngisor uwit atau dibawah pohon. Heheheee.... Alamat Keraton Yogyakarta enggak usah dikasih tahu ya, saya enggak tahu soalnya, tahu letaknya saja.
Waktu itu saya ke Keraton Yogyakarta hari Jumat. Itupun kesiangan. Maklumlah liburan, malas bangun pagi-pagi. Akibatnya kami kesana mendekati jam sholat Jumat. Tapi entah mengapa, saya yang biasanya maunya serba tap tap tap, malah nyantai saja. Padahal kemungkinannya Keraton sudah penuh nuh diliburan
seperti itu. Apalagi kantong parkir sangat jauh dan jalan kaki juga panas banget. Benar saja, sampai disana, jangankan parkir, mau lewat saja harus bersabar diantara orang berjalan. Dalam kondisi seperti itu, lebih baik menahan diri, jangan main klakson saja, orang-orang yang sudah kepanasa bisa marah. 

Sebenarnya kami sudah melewati kantong parkir, tapi mau iseng muter dulu, siapa tahu ada parkir liar yang lebih dekat (jangan ditiru). Ketika hendak melewati depan gerbang masuk pengunjung, tiba-tiba seorang tukang parkir melambaikan tangan. Saya agak heran, memangnya mau diparkirin dimana? Semua penuh pedagang kaki lima. Dari heran berubah kaget karena tukang parkir itu dengan cekatan membantu beberapa pedagang kaki lima kukut-kukut, menggeser dagangan untuk memberi ruang pada kami. Mungkin mereka mengira mobil kami yang berplat AB bukan wisatawan, melainkan tamu Keraton. Hahahaaa geer.
Mencari tempat parkir
Kami segera masuk dan berkeliling (nanti saya postingkan tersendiri). Setelah itu, semua pengunjung diminta keluar karena Sultan dan abdi dalem yang muslim akan sholat bersama pengunjung muslim lainnya di mesjid didepan Keraton. Yang perempuan bagaimana? Yang perempuan mayoritas duduk-duduk menunggu dibawah beberapa pohon di halaman luar Keraton yang besar dan rindang, tapi masih didalam gerbang masuk.
Segeralah pedagang asongan, rata-rata makanan dan minuman menyerbu kami. Siang terik itu sepertinya semua pengunjung kelaparan. Gayung bersambut. Saat itulah datang seorang ibu dengan sepeda kuno, berhenti tepat disebelah saya. Ibu itu menurunkan baskom dan panci besar-besar, lalu menggelar dagangannya. Saya langsung terbelalak karena yang dijualnya adalah makanan khas Jogja lama. Sudah lama saya mencari yang seperti ini. Tiba-tiba sekarang malah mendatangi saya. Mimpi apa ya, saya? Jadi bagaimana? Hajar, dong!
Sepertinya ketika itu banyak pendatang dari luar kota, terbukti mereka hanya melongok-longok saja dagangan ibu ini. Mereka lebih memilih bakso. Akhirnya cuma saya dan beberapa karyawati Keraton yang membeli. Setelah melihat saya makan demikian nikmat sampai nambah, barulah mereka ikutan membeli. Bahkan yang sudah makan bakso ikutan membeli dengan dibungkus.
Jadi, kita makan menggunakan pincukan daun pisang. Nasi yang disediakan adalah nasi putih pulen, khas Jawa. Menunya bermacam-macam antara lain mangut lele (lelenya diasap suedaaap betul), opor ayam tahu, pecel sayuran, sambel goreng krecek dan masih banyak lagi yang saya tak ingat karena tak tampak di foto. Yang paling memorable tentu si mangut lele asap itu. 
Harga? Tidak ingat. Tapi muraaah.... Duh kapan lagi ya kesana?

4 comments:

  1. Mangut lele asap memang sedap banget. Duh jadi terbit air liur membayangkannya. Sayangnya suamiku ga suka dengan menu ikan asap (apapun jenis ikannya). Jadi kalau sedang kepengen, ya beli aja seporsi.

    ReplyDelete
  2. aseekk paling enak itu ya food street asli kaya gini makk

    ReplyDelete
  3. @Mak Niken: kalau gak suka lele asap, menu lain masih banyak tu, ada opor, sambel goreng, pecel dll. Lho, yg jualan sapa? heheheee
    @Mak Shita: iya nikmat

    ReplyDelete

Thank you for your comment. It will appear soon.