14.3.13

# Kuala Lumpur # Malaysia

Ke Puncak Petronas Twin Tower

Ketika kita datang ke suatu daerah untuk tujuan melancong atau berwisata, yang pertama kita cari adalah landmark. Setelah bertemu dengan landmark daerah tersebut, kita memilih cara masing-masing untuk mengenangnya. Ada yang menjelajah di seputaran landmark tersebut, ada yang menggali sejarahnya, dan tentu saja tak lupa berfoto-foto. Jika kita ke Kuala Lumpur, maka landmark yang mutlak harus dikunjungi adalah Petronas Twin Tower.
Petronas Twin Tower pernah menjadi pencakar langit tertinggi didunia (452 meter) sebelum dikalahkan oleh Burj Khalifa di Dubai. Saking terkenalnya, menara kembar ini pernah menjadi lokasi shooting film Entrapment yang dibintangi Sean Connery dan Catherine Zetta Jones. Maka dari itu saya ingin naik sampai puncak.
Antrian tiket jam 08.15
Ternyata cukup sulit mencari blog yang pemiliknya sudah pernah naik sampai ke puncak, di lantai 88. Rata-rata hanya sampai Sky Bridge (jembatan yang menghubungkan dua menara

kembar itu) yang terletak di lantai 41, di ketinggian 170 meter. Alasannya, selain mahal, juga karena tiket yang dikeluarkan pengelola sangat terbatas. Ini karena Twin Tower tersebut memang tidak dimaksudkan untuk obyek wisata, melainkan sebagai pusat perkantoran. Pengelola tidak mau kegiatan bisnis terganggu, selain mengingat tinggi menara yang memerlukan safety sangat ketat bagi pengunjung. Yang berhasil mendapat tiket Sky Bridge menyarankan untuk pagi-pagi sekali datang ke menara yang berada di kompleks KLCC (Kuala Lumpur Convention Center) karena antrian panjang. Bahkan ada yang menyarankan untuk datang jam 06.00, sedangkan loket dibuka jam 09.00. Wah!
Meski sudah bertekad naik sampai puncak, saya cukup santai dan pasrah, bangun pagi seperti biasa dan sarapan seperti biasa. Setelah sarapan, sekitar jam 08.00, saya naik taksi dari depan hotel menuju KLCC. KLCC ternyata masih sepi meskipun hari Minggu dan banyak pelancong dari Indonesia yang menyerbu KL karena bolos hari kejepit. Loket ada di lantai bawah, dan ternyata antrian sudah panjang!
Sky Bridge
Polis perempuan yang cantik-cantik dan ramah mengatur antrian. Harapan muncul ketika petugas mulai mendata berapa tiket yang diperlukan para pengantri. Meski demikian, mereka belum bisa memastikan berapa tiket yang akan dikeluarkan sampai puncak.Yang agak heran, ternyata peminat naik ke puncak didominasi bule-bule dan orang India. Orang Indonesia hanya satu rombongan saja dari Surabaya.
Satu orang boleh mengantri untuk lima tiket. Lainnya bisa menunggu sambil melihat miniatur dan touch screen tentang Twin Tower & KL. Ada juga back drop untuk foto-foto tapi masih tertutup antrian. Setelah antrian yang cukup lama tapi tertib, akhirnya kami mendapat tiket sampai puncak. Yipeee!! I'm so lucky.
Harga tiket dewasa sampai puncak untuk warga asing RM80, sedangkan untuk anak-anak 12 tahun kebawah cukup membayar RM30. Pembayaran bisa dilakukan baik cash maupun menggunakan kartu kredit    Indonesia. Tiket bisa dideteksi secara virtual dengan menyodorkannya pada sebuah layar untuk memantau keberadaan kita sendiri.
At Top
Sebelum naik, petugas membagikan kalung yang membedakan antara pengunjung yang hanya sampai Sky Bridge dan yang sampai puncak. Kami semua masuk lift yang bisa muat 26 orang. Lift ini berkecepatan tinggi, jadi jika dilihat pergantian angka penunjuk levelnya seperti hitungan detik saja, tidak lama seperti di mal pada umumnya. Supaya pengunjung tidak pusing, seluruh dinding ditutup foto. Tapi tetap saja telinga terasa pekak.
Sky Bridge ini adalah tempat Sean Connery kejar-kejaran dengan penjahat sampai akhirnya diledakkan. Heheheee.... Disini tidak ada apa-apa sih. Ya jembatan aja. Kita bisa foto-foto dan mengagumi karya spektakular manusia ini.
Setelah itu, pengunjung yang membeli tiket sampai puncak meneruskan perjalanan dengan lift yang lebih sempit, hanya muat 10 orang berbadan sedang merapat. Ternyata kami tidak bisa sampai lantai 88, melainkan hanya sampai lantai 86. Keluar dari lift, terdapat semacam pembanding antara menara-menara tertinggi didunia. Hmmm.... bisa nggak ya ke Burj Khalifa?
Kembaran 
Di lantai 86 itu terdapat berbagai miniatur twin tower, layar yang menggambarkan KL selama 24 jam dan beberapa teropong. Dari atas itu kita tidak bisa melihat ujung bawah menara saking tingginya. Benar-benar mengagumkan. Kabarnya Pertamina akan membangun menara yang lebih tinggi lagi. Benarkah?
Ketika kembali, kita akan melewati tempat penjualan souvenir di lantai bawah. Meski tak bisa dibilang murah, juga tidak terlalu mahal. Sesuai dengan tempatnya lah. Poin plus untuk para petugas berseragam polis yang masih muda-muda dan sangat ramah, sejak antri tiket sampai acara selesai. Salut.
Sedikit tips bagi yang berusaha memfoto diri didepan menara kembar, bahwa itu cukup sulit dilakukan heheheee.... Paling mudah adalah yang difoto berdiri, yang memfoto rebahan. Nggak tau malu deh, syarat utamanya. Kalau tidak mau rebahan ya mundur agak jauh, supaya kedua menara tampak sampai pucuk dan yang difoto pas ditengahnya. Di taman didepannya ada tembok-tembok pembatas tanaman. Bisa juga yang difoto naik kesitu, sementara yang memfoto tetap di bawah.
Seru! Tunggu cerita KL selanjutnya ya. Masih banyak. Heheheheeee.....

2 comments:

  1. aiiihhh... kamu beruntung... aku berkali-kali ke KL belum pernah berhasil naik ke atas Twin Tower gara-gara.... bangun kesiangan muluuuu. duh, mupeng.

    ReplyDelete
  2. Hahahaaa.... ayo coba lagi keberuntungannya :D

    ReplyDelete

Thank you for your comment. It will appear soon.