14.3.13

# Kuala Lumpur # Malaysia

Bukit Bintang Kuala Lumpur

Ketika merencanakan perjalanan ke Kuala Lumpur, yang saya lakukan pertama kali adalah search top 5 tempat-tempat paling yang paling banyak dikunjungi di google. Yang teratas adalah Bukit Bintang. Dibanding membaca laporan media yang bombastis dan penuh promosi, saya lebih mempercayai blog pribadi. Meski biasanya ada perbedaan, tapi untuk Bukit Bintang ini kebanyakan berpendapat sama, yaitu tempat tujuan wisatawan yang disejajarkan dengan Orchard dan Malioboro. 
Tadinya saya mengkerutkan kening karena Orchard dan Malioboro sangatlah jauh berbeda. Trotoar Orchard sangat lapang, sedangkan trotoar Malioboro dipersempit oleh pedagang kaki lima dan parkir sepeda motor. Orchard dipenuhi mal dan merk internasional, sedangkan Malioboro dipenuhi kerajinan dan produk  seni. Entah bagaimana Bukit Bintang bisa sama
dengan keduanya. Bukit Bintang juga digambarkan ramai dengan pemusik atau seniman jalanan. Baiklah, kalau begitu saya harus menginap disana.
Turkish ice cream yang gokil
Bukit Bintang itu sebenarnya nama jalan. Tapi karena namanya yang sudah terkenal di kalangan pelancong, maka jika menyebut Bukit Bintang berarti seluruh kawasan sampai Jl Alor, Low Yat Plaza dan Pavillion. Banyak hotel yang sebenarnya tidak berada persis di Jl Bukit Bintang, tapi menuliskannya di alamat mereka agar calon pelancong memiliki gambaran seberapa dekat dengan Jl Bukit Bintang.
Kenyataannya bagaimana? Memang benar, Jl Bukit Bintang sangat ramai dengan pelancong. Tapi sayangnya tidak tergambarkan pribadi Melayu disana. Saya sungguh tak mengira ternyata pemerintah Malaysia jauh lebih longgar daripada pemerintah Indonesia. Kawasan Bukit Bintang didominasi hotel dan restoran milik pengusaha suku bangsa India dan Cina. Sulit menemukan makanan yang damai di perut. Restoran Cina terang-terangan menulis menu "pork" di spanduknya. Hanya satu restoran Cina yang mencantumkan tulisan halal. Mungkin ada yang lain, tapi sulit menemukannya. Masakan India sudah jelas halal, tapi kebanyakan terlalu spicy, berat dan bersantan.
Nasi briyani
Di malam hari, club-club malam mulai hidup ditandai dengan dentuman live music. Jika tak pandai memilih hotel, selamat berjaga hingga dini hari. Seniman jalanan ada beberapa, tapi tak sebanyak seperti di Malioboro. Selebihnya adalah suasana yang sama sekali tidak cocok untuk liburan keluarga. Pemilik-pemilik restoran yang sepi pengunjung dan karyawannya, akan berjejer di pinggir trotoar dengan baju yang sangat minim. Beberapa sangat seronok dengan shorts yang sangat pendek dan atasan yang super ketat. Belum lagi tawaran pijat penuh rayuan di depan lorong-lorong ruko bertingkat dengan pintu-pintu sempit.
Meski saya miris harus lalu lalang di tempat seperti itu, tapi saya masih bisa bersyukur karena memilih hotel di Jl Bulan yang relatif tenang, cocok untuk keluarga dan dekat dengan monorail. Meski tadinya merasa kurang puas karena tidak berhasil booking hotel di Jl Bukit Bintang, tapi ternyata itu adalah berkah tersembunyi. 
Yang saya juga heran adalah banyak blog yang menyarankan untuk makan di Alor Street di malam hari, padahal sepertinya pemilik blog seorang muslim. Saya sudah kesana dan tidak menemukan makan malam halal. Alor Street itu benar-benar ramai seperti pasar. Saya hanya sempat membeli es krim Turki saja, yang penjualnya sangat menghibur dan sempat mengakrobatkan es krimnya.
The Pavillion
Menyeberang perempatan ke arah Pavillion, adalah deretan toko merk asing dan mal. Paling ujung adalah H&M, disusul merk-merk dunia ternama lainnya. Sangat kontras dengan deretan sebelum perempatan. Seperti antara kawasan sederhana dengan elite. Meski yang dijual adalah merk-merk ternama yang sudah pasti mahal-mahal, tapi semua toko riuh dengan pengunjung. Ya, ternyata banyak sekali orang kaya. Pengunjung dari Indonesia tampak mencolok menenteng tas-tas belanjaan berstempel merk-merk terkenal. Semoga bukan hasil korupsi, ya. Di kawasan ini juga banyak hotel tapi agak jauh dengan monorail. Tempat nongkrong juga banyak dengan harga makanan dan minuman menyesuaikan tempatnya, tentu saja.
Maaf, saya tidak bermaksud menyinggung siapapun. Saya hanya ingin bercerita apa adanya. Bukit Bintang memang asik, tapi tak cocok untuk keluarga.
Sudah larut malam. Saya akan lanjutkan cerita saya tentang KL di postingan berikutnya.

6 comments:

  1. sy juga lebih suka baca review dr blog pribadi kalo mau cari info, walopun blm tentu pas 100% infonya buat saya

    es krim turki, emang menghibur, Mak. Apalagi buat anak-anak :)

    liat ke side bar kanan, ada pempek candy. Wah, itu pempek emang enak. Saya juga suka :)

    ReplyDelete
  2. salam kenal mbak.....betul saya lbh suka baca referensi dari blog pribadi karena lebih jujur dan ga ada unsur promosi..... :-)

    aku belum prnah ke wilayah malaysia, pengen sekali kesana, apalgi ada Lego Land ya yg cocok buat anak2, pny infonya ga?

    BB kurang cocok buat keluarga, terutama dgn anak2 kecil ya - jd info yg baik buat aku

    ReplyDelete
  3. tidak cocok kalau untuk jalan-jalan bersama anak-anak ya mbak. Pascal pingin sekali ke Legoland disana mbak. Mudah-mudahan bisa terlaksana.

    ReplyDelete
  4. Es krim Turki jg udh ada loh di mall kelapa gading. Menghibur penyajiannya...
    jadi pengen jalan-jalan ke sana nih *_*

    ReplyDelete
  5. @mak Myra: waaaakkkkk jadi pengin telpon pempek Candy nih
    @honeybee: Legoland gak punya info, tapi aku kurang suka yg temanya spt itu
    @mak Lidya: ya Legoland cocok utk seumuran Pascal
    @mak Irma: ada ya? wah gak lihat waktu kesana lalu

    ReplyDelete
  6. Oh okay, very nice info.
    Jd ke bukit bintang cari oleh2 saja, menginap di tempat lain.
    Makasih mbak :)

    ReplyDelete

Thank you for your comment. It will appear soon.