17.8.11

# DIY # Obyek

Memangnya di Malioboro Jogja Ada Apa Sih?


Ke Jogja tapi tidak ke Malioboro? Berarti belum sah! Lho, memangnya kenapa harus ke Malioboro? Jawabnya tidak bisa anda ketahui dalam satu hari. Meskipun Malioboro hanya satu jalan lurus dari stasiun Tugu sampai Keraton, tapi banyak yang bisa anda temui atau lihat yang tidak ada di kota lain.
Nah, jika anda hanya punya satu hari untuk berada di

Malioboro, sisirlah dengan berjalan kaki dari utara sampai selatan. Bagi yang sudah beberapa kali ke Malioboro, biasanya tidak akan melalukan lagi karena langsung menuju ke tempat favorite. Mengapa dari utara ke selatan? Karena di jalan Malioboro diberlakukan lalu lintas satu arah, dari utara menuju ke selatan, jadi bisa sekalian ngirit transportasi.

Atraksi utama Malioboro sebenarnya adalah pedagang kaki lima sepanjang jalan yang menjual berbagai jenis kerajinan, dari mulai baju batik, aksesoris, kaos, sandal, tas dan masih banyak lagi. Soal harga, silakan anda tawar habis. Di Pasar Beringharjo, anda bisa juga menemui jenis produk yang hampir sama, namun anda tidak akan bisa terlalu banyak menawar karena harganya sudah agak dibawah yang berjualan di trotoar Malioboro. Namun begitu, banyak yang produk unik disepanjang jalan Malioboro yang tidak ada di pasar Beringharjo. Bahkan anda bisa menemui banyak pembuat tato temporer di sepanjang Malioboro. Sayangnya juga, sekarang produk pabrik murah seperti sandal plastic-pun ikut dijual disana. Mungkin paguyuban pedagang Malioboro harus instropeksi untuk menjaga keunikan Malioboro.
Daya tarik pedagang kaki lima ini juga menghidupkan toko-toko disepanjang jalan Malioboro. Toko-toko batik bisa ditemukan dengan pilihan yang sangat banyak, bahkan digang-gang sekitarnya banyak toko-toko batik kecil yang mendesign sendiri untuk konsumsi dan size orang Eropa. Harganya tidak terlalu mahal, namun nyaman dikenakan untuk orang yang berukuran besar dan designnya tidak pasaran. Selain itu juga terdapat toko-toko souvenir dengan harga memasang harga pas, misalnya Mirota Batik dan Prodo. Jika anda tidak pandai menawar, anda bisa membeli souvenir di toko-toko tersebut.
Salah satu yang menjadi buruan para pelancong adalah kaos dagadu, yang aslinya hanya yang di lantai bawah Mal Malioboro. Namun jiplakannya bisa anda beli sepanjang jalan Malioboro sampai ke gang-gang sempit disekitarnya. Harga tentunya selisih banyak dengan yang asli, bahkan masih bisa ditawar. Tapi apakah anda tidak malu memberi oleh-oleh yang tidak asli? Selain dagadu, sekarang sudah bermunculan kaos khas Jogja merk lain misalnya Dadung, Canting, dan sebagainya. Terserah selera anda saja.
Soal makanan, mungkin agak merepotkan di siang hari. Selain jumlahnya sangat sedikit, juga tampak tidak bersih. Untuk siang hari, lebih aman anda makan di mal saja, yang berarti anda tidak mendapatkan yang khas Jogja. Anda bisa juga mencoba membeli makan di pasar Beringharjo. Didepan pasar banyak penjual pecel, tapi tidak ada tempat duduk yang nyaman. Jika ingin makanan yang lebih mengenyangkan, anda bisa naik ke lantai 2 dan 3. Disana ada beberapa penjual gado-gado dan soto yang cukup enak dan murah. Selain itu, yang ada disepanjang jalan Malioboro paling banter jualan bakso.
Nah, untuk malam hari, kuliner khas Jogja mulai merambah Malioboro. Setelah maghrib sudah ada, dan semakin banyak setelah toko-toko dan pedagang souvenir kaki lima tutup karena tempat mereka gentian. Segala macam menu dari mulai ayam, bebek lele dan tentu saja gudeg berderet-deret. Tapi jangan lupa untuk memilih warung yang memiliki daftar harga karena banyak yang “dipentung” dengan harga tidak wajar oleh pemilik warung yang nakal, apalagi karena anda dari luar kota. Mereka berpikir tidak apa-apa anda kecewa, toh belum tentu tahun depan anda bisa ke Jogja lagi.
Anda juga harus bersiap jika kecapekan, karena kursi taman yang tersedia, letaknya jauh diujung selatan jalan Malioboro, didepan Gedung Agung dan Benteng Vredeburg. Jika anda sudah tidak kuat berjalan sebelum mencapai tempat tersebut, anda terpaksa masuk ke mal seperti Mal Malioboro dan Ramai untuk duduk yang tidak gratis alias duduk di restorannya sambil paling tidak minum. Tempat istirahat gratis ada juga jika anda ingin sekalian sholat, misalnya di mushola Al-Fath. Mesjid ada di ujung selatan, diluar jalan Malioboro, tepatnya mesjid Agung di alun-alun Utara.
Gimana? Mau ke Malioboro mudik kali ini? Satu hal lagi, H+2 sampai H+7 Lebaran, Malioboro akan benar-benar padat macet total, karena pemudik tujuan kota-kota sekitar Jogja akan masuk menyerbu Jogja untuk sekedar jalan-jalan, cari oleh-oleh, bahkan kulakan kerajinan. Siapkan kesabaran dan fisik. Bagi-bagi ceritanya yaaa….

No comments:

Post a Comment

Thank you for your comment. It will appear soon.