7.8.11

# Riau # Siak Sri Indrapura

Masakan Melayu RM Yessy Siak Nan Ramah

Alamat: Jl. Sultan Ismail – Siak Sri Indrapura (seberang Istana Siak)
Sudah dua kali saya berkunjung ke Siak dan makan di dua rumah makan yang berbeda. Dua-duanya pas dilidah saya. Sayangnya, saya lupa letak rumah makan yang pertama kali saya kunjungi, yang menurut saya sangat lezat meski sederhana. Akhirnya saya mampir di rumah makan yang mudah dicari saja, yaitu di seberang Istana Siak.
Ketika datang, saya juga keheranan karena sama seperti rumah
makan sebelumnya, saya langsung disambut seorang ibu-ibu yang sangat ramah. Mungkin standar pelayanan disana ya, seperti makan dirumah sendiri tapi bayar heheheee…
Jenis masakannya hampir sama, hanya di rumah makan yang pertama dulu cenderung ke citarasa Padang, sedangkan di RM Yessy lebih ke citarasa Melayu. Meski demikian, dibandingkan dengan rumah makan serupa di Pekanbaru, masakan Siak sangat pas di lidah saya, yaitu pedas tapi tidak menyengat dan kaya bumbu. Masakan Siak juga tampak lebih fresh dibandingkan masakan Pekanbaru yang seperti kelamaan di kuali.
Menu di RM Yessy ini tidak banyak pilihan, seputar makhluk air dan ayam. Karena letaknya yang tepat dipinggiran sungai Siak, saya langsung menanyakan udang. Udang-pun datang dengan berbagai style. Ada udang kecil-kecil yang dioseng dengan sambal. Ada udang goreng tepung dan rebus yang disusun dengan tusuk sate. Meski udang yang disusun dengan tusuk sate itu cukup besar-besar, tapi tidak sebesar udang sungai Kampar yang harganya mencapai Rp 70,000 per ekor. Udang di RM Yessy enak dan gurih, meskipun masih kalah dengan yang di sungai Kampar. Bandingannya jika rasa udang RM Pertemuan Dagang dari sungai Kampar bertahan di mulut hingga 3 jam, rasa udang di RM Yessy dari sungai Siak bisa bertahan dalam 1 jam.
Di RM Yessy tidak ada menu sayur, atau mungkin waktu itu sudah habis. Tapi disediakan lalapan dedaunan yang saya tidak tahu namanya. Waktu itu sudah bertanya, tapi sekarang lupa lagi namanya. Saya tidak mencobanya, karena bentuk lalapan tersebut mencurigakan, terlalu hijau, seperti bergetah, takut pahit. Meskipun ibu tadi mencoba meyakinkan saya bahwa lalapan tersebut segar dimakan bersama udang, tapi saya tetap tidak mencobanya.
Saya juga mencoba ikan patin yang diberi kuah gulai. Sebenarnya saya tidak suka ikan patin, karena dari pengalaman biasanya dalamnya masih merah. Ikan patin itu seperti ikan lele hanya dagingnya tebal, sehingga jika dimasak, kadang panas tidak bisa menembus kedalam daging dengan sempurna. Dan memang saya dapati dalamnya kurang matang.
Total pengeluaran untuk 4 orang sekitar Rp 170,000. Cukup masuk akal menurut saya. Setelah membayar, baru saya ingat bahwa buah pisang dimeja yang saya makan, belum dihitung. Ternyata, kata ibu itu, pisang tersebut gratis, tidak bayar seperti di RM Padang. Saya-pun nyeletuk, “Wah tahu gitu makan agak banyak.” Eh, si ibu bilang, pisang itu dibawa pulang juga tidak apa-apa kok, begitu juga dengan lalapan tadi. Untuk menjaga kesopanan, pisangnya saya bawa pulang setengah sisir saja.
Satu hal lagi persamaan antara RM yang dulu saya datangi dengan RM Yessy adalah penataan meja kursi. Meski warungnya sederhana, meja dan kursi ditutup kain hias selayaknya meja dan kursi di tempat kondangan. Kondangan tapi bayar heheheee…

No comments:

Post a Comment

Thank you for your comment. It will appear soon.