20.7.11

# Jawa Tengah # Obyek

Dear Pekalongan,

www.burselfwoman.com 8 September 2010
Tujuhbelas tahun aku merindukanmu. Kemarin kuputuskan untuk menempuh perjalanan yang luar biasa melelahkan untuk menemuimu lagi. Sudah kusiapkan puisi indah untukmu. Namun puisi itu tidak kuteruskan, karena itu bukanlah cerminan diriku yang sesungguhnya, selain juga diejek habis-habisan oleh adikku.
Begitu memasukimu, aku memutuskan untuk menyegarkan diri sebentar disebuah pom bensin. Aku ingin kita bertemu dengan wajah sama-sama berseri. Namun inilah kamar mandi dengan air terkotor yang pernah kutemui sejak pagi
hingga malam dalam perjalanan. Dan taukah kamu, disinilah pula satu-satunya pom bensin dari pom pensin yang aku kunjungi sebelumnya yang ada pengemisnya.
Sulit untuk melihat dirimu seutuhnya dimalam hari meskipun kamu kini terang-benderang. Manusia menyemut diseluruh penjuru menghalangi pandanganku. Mal pertama itu yang pertama kali kulihat karena menonjol dibanding toko-toko disebelahmu. Mal itu tampak lebih bagus dari ketika pertama berdiri dulu. Hey mal, ingatkah kamu dulu menghadiahiku jam tangan sewaktu pertama kali kamu dibuka?
Aku juga melewati bioskop cineplex pertamamu. Aku ingat film terakhir yang kutonton berjudul “La Bamba” bersama seorang sahabatku. Satu-satunya film yang kami anggap pantas untuk kami tonton waktu itu, karena meskipun untuk 17 tahun keatas namun ini film tentang musik, tentang si penyanyi La Bamba, Richie Valen(zuela).
Lalu aku menyusuri Jl. Hayam Wuruk, tempat aku membeli sebagian besar kebutuhanku dulu. Aku juga mempunyai beberapa teman yang memiliki toko disepanjang jalan itu. Aku sangat terkejut, kamu dibagian ini tampak sangat tua. Atau kamu membiarkan dirimu tua? Tidakkah kamu ingin awet muda dan sedap dipandang? Kamu bisa kan sedikit shapping dan facelift? Memang sih, biayanya mahal. Tapi bukankah kamu melindungi banyak saudagar kaya? Atau bisa juga kalau mau agak murah, pakai bedak dasar, bedak tabur dan bedak compact yang agak tebal. Boleh dioles sedikit blush-on dan lipstick jika ingin tampak natural seperti bangunan-bangunan tua di Semarang, Medan dan kota tua Jakarta, walaupun bagus juga kalau berani menor seperti Chinatown di Singapura.
Tidak usah tebak-tebakan, kamu benar, aku langsung ke alun-alun. Aku pernah ikut aubade disini dan beberapa kali digiring untuk mengikuti upacara peringatan hari-hari besar tertentu. Dulu kamu sama panasnya dengan sekarang, tentu saja aku memilih melarikan diri dibawah pohon dipinggir alun-alun. Kemana pohon itu? Sulit mencari diantara launtan manusia. Sungguh-sungguh lautan manusia. Kutahan nafas dalam-dalam melewati lautan manusia itu. Bagaimana jika ada yang terserempet tidak sengaja? Bagaimana jika ada yang jail menggores mobil? Bagaimana jika ada yang berantem lalu terjadi tawuran massal? Aku pasti tidak akan bisa melarikan diri.
Di sisi timur alun-alun ternyata berdiri satu mal lagi. Lautan manusia itu tampaknya bukan hendak berbelanja di mal itu. Mereka hanya berdiri diluar entah melihat dan mencari apa. Mal tempat bazaar baju tidak terlalu ramai, bahkan restoran makanan siap saji yang berada didepan kosong melompong.
Alun-alun itu… oh alun-alun itu dipenuhi tenda pedagang makanan. Tampak semrawut dan kumuh. Membayangkannya disulap menjadi seperti Merdeka Walk di Medan. Alangkah nyamannya… Atau jika itu terlalu mewah, bisa juga dengan menyeragamkan tendanya atau merelokasi ke tempat lain, agar alun-alun kembali ke fungsinya sebagai ruang publik yang lebih lega. Pasti asik sekali anak-anak bisa bermain kembang api disana. Meluncurkan kembang api missile dan meledak diudara. Suasana menjadi meriah karena terjadi persaingan ketinggian, keindahan, keterangbenderangan dan kekerasan suara antar pengunjung, seperti di alun-alun Magelang.
Aku melongok kesana kemari mencari sosok mesjid Kauman. Sesuatu menyilaukan mataku, membuatku tidak bisa melihat mesjid lambangmu itu. Sebuah layar mencorong dengan warna-warni menyilaukan seolah melahap habis apapun yang ada disekitarnya. Membuat sekitarnya seolah hilang. Aku pernah melihat layar iklan itu dikota-kota lainnya seperti Pekanbaru dan Magelang. Tapi layarmu ini yang terlebar. Selain juga dikota lain tidak bersaing dengan mesjid. Seandainya layarmu ini difungsikan sebagai layar tancap, dari ujung manapun di alun-alun ini pasti  bisa melihatnya. Tapi yang kulihat malam itu hanya iklan rokok, yang bisa ditonton segala usia. Maaf aku harus berkata, kehadirannya yang gemebyar itu membuat masjid Kauman tampak tua dan letih. Apalagi malam itu masih terdengar suara imam memimpin sholat Tarawih yang tidak bisa kuuikuti. Terdengar kontras dan trenyuh.
Ironinya malam itu dikota santri, parkir didekat mal dan tenda-tenda warung penuh sesak tiada sela bahkan untuk berjalan. Sementara diseberangnya, didepan mesjid Kauman yang sedang menggelar sholat Tarawih, masih bersisa beberapa ruang parkir.
Dengan berjalan kaki, kucari yang sudah kunanti sejak mengawali perjalanan ini, sumber kelezatan, Pak Masduki. Sepiring garang asem lengkap dengan telur dan sepiring nasi Megono membuatku tak mengeluhkan apapun. Hanya pujian yang mampu meluncur. Seolah tidak cukup, masih membungkus lagi untuk sahur.
Tiada yang lebih manis selain bertemu teman-teman lama untuk mengingat kembali hari-hari lalu bertahun-tahun yang lalu. Tempat janjian kami disebuah café. Aku sempat tidak percaya kamu sekarang memiliki café. Sayangnya aku tidak sempat menikmati café ala kamu karena teman-temanku terlambat datang dan aku tidak memiliki banyak waktu. Kabarnya salah satu dari mereka sudah menyiapkan pindang tetel untukku tapi terjebak macet. Alasan yang dulu sama sekali tidak akan dipercaya. Huuuh… pindang tetel. Ngiler nih.
Jalan menuju keluar darimu juga agak sulit, karena pasar tiban dimana-mana. Pasar tiban memang rejeki Ramadhan. Siapa saja boleh mencoba meraihnya. Bahkan odong-odong keliling kegemaran anak-anak. Tapi jika diadakan dikanan dan kiri jalan, bisa berubah jadi bencana jika ada yang terserempet. Kalau sampai kejadian, pasti aku sebagai pendatang kan yang disuruh membayar ganti rugi? Jangan membuat dirimu menakutkan bagi pendatang. Kalau toh tidak punya lapangan untuk mengadakan pasar tiban, sekalian saja jalan itu distop dari ujung ke ujung sehingga pengendara tidak terjebak dan bisa mencari jalan lain sebelumnya.
Jalan menjadi agak lengang ketika memasuki Jl Dr. Cipto. Jalan inipun tampak lebih lebar dan bangunan sekitarnya tampak lebih rapi karena mungkin masih relatif lebih baru. Malam itu diakhiri dengan kekecewaan sudah tutupnya pasar Setono karena sudah terlalu malam.
Pekalongan, delapan tahun aku menjadi bagian dari dirimu. Seperti apapun dirimu sekarang, aku tidak mungkin membencimu karena kamu ada disebagian tubuhku. Kamu ada dalam bentuk nasi megono yang kumakan tiap sarapan. Kamu ada dalam bentuk gemblong yang kukudap tiap sore. Kamu ada dalam bentuk ayat-ayat suci yang kupelajari dulu. Kamu ada dalam kekuatan fisikku karena enam tahun bersepeda berkilo-kilo meter jauhnya dibawah sinar mataharimu yang terkenal menyengat. Kamu ada dalam caraku menghargai sesama dari etnis apapun.
Pekalongan, demi sayangku padamu, berdandan yok. Bergeser, melebar, supaya tidak berjejalan dibawah satu lampu seperti laron. Beri semangat pada toko-toko tua itu untuk berhias agar wajah mereka tampak berseri-seri. Tegaskan ikonmu sekarang, mesjid Kauman atau layar itu. Jika mesjid Kauman, tampaknya mudah bagimu membuatnya lebih megah dan bersinar, melebihi sinar manapun yang ada diseluruh dirimu.
Pekalongan, tidak sampai dua jam aku memandangimu. Tidak cukup memang. Aku masih berangan melihat ngebom, Medono dan sekolah-sekolahku dulu. Aku masih berangan menyantap nasi uwet dan nasi kebuli. Tapi waktuku hanya sampai disitu.
Dear Pekalongan, terima kasih garang asemnya…

No comments:

Post a Comment

Thank you for your comment. It will appear soon.