15.1.11

# DIY # Kuliner

Berburu Masakan Simbah Di Beringharjo


Istilah bahwa tangan simbah atau nenek menjadi jaminan enaknya makanan sesederhana apapun, mungkin ada benarnya. Meskipun beliau-beliau itu menggunakan bumbu yang lebih tradisional dan ringkas, tetap saja rasanya membuat kangen. Bahkan kemudian ada seloroh bahwa masakan simbah itu unggul di doa. Ada doa disetiap racikannya.
Beringharjo yang terletak di Jalan Malioboro Yogyakarta adalah tujuan wisata belanja yang tidak boleh dilewatkan. Umumnya  wisatawan mencari oleh-oleh, atau bahkan kulakan batik dan kerajinan. Meskipun demikian, dibagian
belakang pasar adalah tempat orang berjualan macam-macam, diantaranya sayur, beras, kelontong, dan sebagainya, seperti umumnya pasar. Dan diantara para pedagang dari depan hingga belakang, dari lantai bawah hingga atas, terselip beberapa simbah yang berjualan makanan lezat.
Di pintu luar samping, ada simbah yang berjualan sate gajih. Mencarinya mudah, cukup mencari sumber bau sedap yang khas, hasil pembakaran gajih dan kecap bumbu. Sate gajih disini berpotongan besar-besar yang tidak njendal (menjadi lemak beku) jika dingin. Gajih artinya lemak, tapi sate gajih yang benar tidak memakai lemak sebagai bahan, melainkan lebih dekat dengan sandung lamur, makanya tidak njendal.  Jangan tertipu dengan penjual sate gajih yang menggunakan bahan lemak. Saya pernah bertemu dengan penjual seperti itu tapi ditempat lain, bukan di Beringharjo. Setelah dimakan, lemak lengket di langit-langit mulut sampai berjam-jam. Sungguh tidak nyaman. Ciri sate gajih yang benar adalah tampak transparan sebelum dibakar, sedangkan lemak tampak pekat.
Simbah lain adalah penjual bakpia tanpa merk. Ini agak sulit dicari, karena menjualnya digendong dikeranjang dan berpindah-pindah. Bedanya dengan yang bermerk adalah rasanya lebih khas, tidak bau bahan kimia pembuat kue. Dan ada satu isi yang tidak ada ditoko, yaitu kedelai hitam.
Setelah jajan dan membeli oleh-oleh, saatnya mendatangi simbah yang satu ini untuk makan. Bu Tjip menjual soto daging di lantai 3, dekat dengan para penjual bunga. Tempatnya sederhana dengan bangku kayu. Memasaknya juga masih memakai tungku. Tapi dibandingkan dengan soto daging lain yang terkenal di Jogja, soto ini jauh lebih lezat dan segar. Selain soto, masih ada aksesorisnya berupa tempe mendoan, sate telor puyuh dan lain-lain. Lantaran sudah simbah, tidak terpikir hal-hal lain selain si soto itu sendiri, sehingga tidak tersedia minuman seperti es teh atau es jeruk. Minumnya air putih atau teh hangat, meskipun cuaca panas. Sekali anda duduk, anda akan merasa seperti didapur simbah sendiri. Harganya? Walaaah…. Murah sekenyangnya.

No comments:

Post a Comment

Thank you for your comment. It will appear soon.